Jumat, 29 Mei 2015

Belajar Bahasa Pemrograman Di Mesran.Net

Ini dia situs web bahasa pemrograman terlengkap bernama mesran.net

Hai sahabat bloger, apakah anda suka belajar bahasa pemrograman ? ada tugas dari dosen tentang pemrograman? Ayo mari belajar pemrograman di mesran.net.menurut saya situs ini bagus dan sangat lengkap untuk sobat belajar pemograman….
mesran.net ini  adalah sebuah blog yang merupakan salah satu situs website yang menyajikan tentang bahasa pemograman. Di mana di dalam nya terdapat banyak bahasa pemrograman seperti Pascal, Visual Basic 6.0 , Java  dan lain-lain…


Di mesran.net ini juga bisa sahabat Download Program, Download EbookDownload Software. Dan di mesran.net ini bisa melihat Jadwal kuliah, IP, judul tugas akhir dan judul skripsi, tapi khusus untuk mahasiswa/i STMIK BUDIDARMA dan tentunya harus login dulu….

Bicara mengenai STMIK BUDIDARMA, ini saya ada Infonya Tentang Campus STMIK BUDIDARMA silakan Klik Disini  

okey sahabat bloger sekian dulu mengenai artikel mesran.net. Semoga artikel ini berguna dan bermanfaat bagi sahabat sekalian....

Contoh Aplikasi Sistem Penunjang Keputusan Dengan Metode Analytic Hierarchy Process

Sejarah AHP
AHP dikembangkan oleh thomas saaty pada tahun 1970an. AHP merupakan sistem pembuat keputusan dengan menggunakan model matematis. AHP membantu dalam menentukan prioritas dari beberapa kriteria dengan melakukan analisa perbandingan berpasangan dari masing-masing kriteria. Dalam sistem pengelolaan kinerja yang dimaksud dengan kriteria tersebut adalah KPI.

Penggunaan metode AHP dalam Sistem Pengelolaan Kinerja
Kaidah pembobotan menyatakan bahwa:
  1. Nilai bobot KPI berkisar antara 0 – 1 atau antara 0% – 100% jika kita menggunakan prosentase.
  2. Jumlah total bobot semua KPI harus bernilai 1 (100%)
  3. Tidak ada bobot yang bernilai negatif (-).
Berikut ini adalah langkah-langkah yang digunakan dalam menentukan bobot KPI dengan menggunakan AHP:
Menentukan nilai prioritas KPI. Biasanya orang lebih mudah mengatakan bahwa KPI A lebih penting daripada KPI B, KPI B kurang penting dibanding dengan KPI C dsb, namun mengalami kesulitan menyebutkan seberapa penting KPI A dibandingkan KPI B atau seberapa kurang pentingnya KPI B dibandingkan dengan KPI C. Untuk itu kita perlu membuat tabel konversi dari pernyatan prioritas ke dalam angka-angka. Contoh tabel skala nilai prioritas KPI seperti pada tabel dibawah:


Nilai Tingkat prioritas
1 KPI A sama penting dibanding dengan KPI B
3 KPI A sedikit lebih penting dibanding dengan KPI B
5 KPI A lebih penting dibanding dengan KPI B
7 KPI A sangat penting dibanding dengan KPI B
9 KPI A jauh sangat penting dibanding dengan KPI B
2,4,6,8 *) nilai tengah-tengah

*) Pengertian nilai tengah-tengah adalah Jika KPI A sedikit lebih penting dari KPI B maka kita seharusnya memberikan nilai 3, namun jika nilai 3 tersebut dianggap masih terlalu besar dan nilai 1 masih terlalu kecil maka nilai 2 yang harus kita berikan untuk prioritas antara KPI A dengan KPI B.
*) Tabel diatas tidak disebutkan konversi nilai KPI A kurang penting dari KPI B karena
pernyataan KPI A kurang penting dari KPI B sama dengan pernyataan nilai KPI B lebih penting dari KPI A
Selanjutnya adalah membuat table perbandingan prioritas setiap KPI dengan membandingkan masing-masing KPI. Sebagai contoh: Jika kita mempunyai 4 KPI, maka kita membuat matrik perbandingan ke-4 KPI tersebut. Misalkan dari proses menbandingkan antar KPI diperoleh nilai prioritas KPI sebagai berikut:


KPI A KPI B KPI C KPI D
KPI A 1 1/2 1/5 1/3
KPI B 2 1 1/3 1
KPI C 5 3 1 1/2
KPI D 3 1 2 1

Cara mengisinya adalah dengan menganalisa prioritas antara KPI baris dibandingkan dengan KPI kolom. Dalam prakteknya kita hanya perlu menganalisa prioritas KPI yang terdapat dibawah pada garis diagonal (kotak dengan warna dasar putih) yang ditunjukan dengan warna kuning atau diatas garis diagonal yang ditunjukan dengan kotak warna hijau. Hal ini sesuai dengan persamaan matematika yang menyebutkan jika A:B= X, maka B : A = 1/X. Contoh: jika prioritas KPI B (baris) : KPI A (kolom) = 2, maka prioritas KPI A (baris) : KPI B (kolom) = 1/2 (lihat rumus persamaan perbandingan matematika diatas). Sehingga prioritas setiap KPI antara KPI A : KPI A = 1, KPI C : KPI A = 5, KPI C : KPI B = 3, KPI D : KPI A = 3, KPI D : KPI B = 1, KPI D : KPI C = 2.
Selanjutnya adalah menentukan bobot pada tiap KPI, nilai bobot ini berkisar antara 0 – 1. dan total bobot untuk setiap kolom adalah 1. Cara menghitung bobot adalah angka pada setiap kotak dibagi dengan penjumlahan semua angka dalam kolom yang sama. Contoh bobot dari (KPI A, KPI A) = 1/ (1+2+5+3) = 0.090, (KPI B, KPI A) = 2 / (1+2+5+3) = 0.181. Dengan perhitungan yang saman bobot prioritas tabel KPI di atas menjadi:

KPI A KPI B KPI C KPI D
KPI A 0.091 0.091 0.057 0.118
KPI B 0.182 0.182 0.094 0.353
KPI C 0.455 0.545 0.283 0.176
KPI D 0.273 0.182 0.566 0.353
Selanjutnya adalah mencari nilai bobot untuk masing-masing KPI. Caranya adalah dengan melakukan penjumlahan setiap nilai bobot prioritas pada setiap baris tabel dibagi dengan jumlah KPI. Sehingga diperoleh bobot masing-masing KPI adalah:
  • KPI A = (0.091 + 0.092 + 0.057 + 0.118) / 4 = 0.089 (8.9%)
  • KPI B = (0.182 + 0.182 + 0.094 +0.353) / 4 = 0.203 (20.3%), dengan perhitungan yang sama KPI C, KPI D
  • KPI C = 0.365 (36.5%)
  • KPI D = 0.343 (34.3%)
Sehingga jumlah total bobot semua KPI = 1 (100%) sesuai dengan kaidah pembobotan dimana jumlah total bobot harus bernilai 100.
Perhitungan secara manual akan lebih mudah jika jumlah KPI yang dimiliki hanya sedikit , jika jumlah KPI sudah lebih dari 10 maka perhitungan bobot menggunakan software akan jauh lebih mudah. Ada beberapa software yang bisa dipakai antara lain Expert Choice, Decision Lens, TESS, Web-HIPPRE.
Proses yang paling menentukan dalam menentukan bobot KPI dengan menggunakan AHP adalah menentukan besarnya prioritas antar KPI. Karena itu seringkali terjadi pembahasan yang alot antar anggota tim implementasi sistem pengelolaan kinerja mengenai masalah tersebut. Hal ini dikarenakan tiap-tiap anggota tim memiliki persepsi tersendiri mengenai prioritas masing-masing KPI.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN


A.     Jenis – Jenis Keputusan

Pengertian keputusan menurut beberapa ahli seperti :
1.      Menurut Simon, ada keputusan terprogram dan tak terporgram. keputusan terprogram bersifat berulang dan rutin, hingga suatu prosedur pasti telah dibuat untuk menanganinya. keputusan tak terprogram bersifat baru, terstruktur dan jarang konsekuen. Tahap – tahap dalam mengambil keputusan adalah :
Ø  Kegiatan Intelejen.
Ø  Kegiatan Merancang.
Ø  Kegiatan Memilih.
Ø  Kegiatan Menelaah.
2.      Menurut Ralph C. Davis , Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas.
3.      Menurut Mary Follet , Keputusan adalah suatu atau sebagai hukum situasi.
4.      Menurut James A.F.Stoner , Keputusan adalah pemilihan di antara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:
Ø  Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
Ø  Ada beberapa alternatif yang harus dan dipilih salah satu yang terbaik.
Ø  Ada tujuan yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tertentu.
5.      Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirjo, SH , Keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah atau problem untuk menjawab pertanyaan apa yang harus diperbuat guna mengatasi masalah tersebut, dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif.
B.       Pengertian Sistem Pendukung Keputusan.
Sistem pendukung keputusan atau decision support system (DSS) merupakan suatu cara untuk memenuhi kebutuhan informasi yang tidak memadai untuk membuat suatu keputusan yang spesifik yang memecahkan permasalahan yang spesifik. Penambahan terbaru DSS adalah system pendukung keputusan berkelompok GDSS, dimana GDSS berusaha memperbaiki komunikasi di antara para anggota kelompok dengan menyediakan lingkungan yang mendukung.
Jelasnya, Sistem pendukung keputusan atau decision support system (DSS) adalah bagian dari sistem informasi berbasis  komputer termasuk sistem berbasis pengetahuan atau manajemen pengetahuan yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi  atau perusahaan. Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data  menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi terstruktur yang  spesifik.
C.      Diciptakannya Sistem Pendukung Keputusan (DSS).
Sistem pendukung keputusan (SPK) mulai dikembangkan pada tahun 1960-an, tetapi istilah sistem pendukung keputusan itu sendiri baru muncul pada tahun 1971, yang diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Micheal S.Scott Morton, keduanya adalah profesor di MIT. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk menciptakan kerangka kerja guna mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen. G. Anthony Gorry dan Micheal S.Scott Morton awalnya menggunakan DSS hanya untuk aplikasi pada computer di masa depan.
 
D.     Jenis – Jenis DSS menurut Alter
1.1 Jenis – Jenis DSS
Jenis yang memberikan dukungan paling sedikit adalah jenis yang memungkinkan manajer mengambil elemen – elemen informasi. Ketiga jenis yang pertama DSS ini memberikan dukungan dalam bentuk laporan khusus sebagai jawaban atas database query dan laporan periodic. Jenis DSS oleh Alter ini yang memberikan paling banyak adalah jenis yang dapat membuat keputusan manajer. Alter meneliti didukung konsep mengembangkan system untuk menangani keputusan – keputusan tertentu dan menjelaskan bahwa DSS tidak terbatas pada pendekatanyang lebih exotic dari database query.
A.     Tujuan DSS
Sementara itu, perintis sistem pendukung keputusan yang lain dari MIT, yaitu Peter G.W. Keen yang bekerja sama dengan Scott Morton telah mendefenisikan tiga tujuan yang harus dicapai oleh sistem pendukung keputusan, yaitu:
1.      Sistem harus dapat membantu manajer dalam membuat keputusan guna  memecahkan masalah semi terstruktur.
2.      Sistem harus dapat mendukung manajer, bukan mencoba menggantikannya.
3.      Sistem harus dapat meningkatkan efektivitas pengambilan keputusan manajer.
Tujuan-tujuan tersebut berhubungan dengan tiga prinsip dasar sistem pendukung keputusan , yaitu:
1.      Struktur masalah
Untuk masalah yang terstruktur, penyelesaian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus yang sesuai, sedangkan untuk masalah terstruktur  tidak dapat dikomputerisasi. Sementara itu, sistem pendukung keputusan  dikembangkan khususnya untuk menyelesaikan masalah yang semi-terstruktur.
2. Dukungan keputusan
Sistem pendukung keputusan tidak dimaksudkan untuk menggantikan manajer, karena komputer berada di bagian terstruktur, sementara manajer berada dibagian tak terstruktur untuk memberikan penilaian dan melakukan analisis. Manajer dan komputer bekerja sama sebagai sebuah tim pemecah masalah semi terstruktur.
3. Efektivitas keputusan
Tujuan utama dari sistem pendukung keputusan bukanlah mempersingkat waktu pengambilan keputusan, tetapi agar keputusan yang dihasilakn dapat lebih baik.
B.      Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan dirancang secara khusus untuk mendukung seseorang yang harus mengambil keputusan-keputusan tertentu. Berikut ini beberapa karakteristik sistem pendukung keputusan :
1.      Interaktif
SPK memiliki  user interface yang komunikatif sehingga pemakai dapat melakukan akses secara cepat ke data dan memperoleh informasi yang dibutuhkan.
2.  Fleksibel
SPK memiliki sebanyak mungkin variabel masukkan, kemampuan untuk mengolah dan memberikan keluaran yang menyajikan alternatif-alternatif keputusan kepada pemakai.
3. Data kualitas
SPK memiliki kemampuan menerima data kualitas yang dikuantitaskan yang sifatnya subyektif dari pemakainya, sebagai data masukkan untuk pengolahan data. Misalnya: penilaian terhadap kecantikan yang bersifat kualitas, dapat dikuantitaskan dengan pemberian bobot nilai seperti 75 atau  90.
4. Prosedur Pakar
SPK mengandung suatu prosedur yang dirancang berdasarkan rumusan formal atau juga beberapa prosedur kepakaran seseorang atau kelompok dalam menyelesaikan suatu bidang masalah dengan fenomena tertentu.
Ada beberapa karakteristik dari Sistem Pendukung Keputusan menurut Turban, di antarannya adalah sebagai berikut:
Ø  Mendukung seluruh kegiatan organisasi
Ø  Mendukung beberapa keputusan yang saling berinteraksi
Ø  Dapat digunakan berulang kali dan bersifat konstan
Ø  Terdapat dua komponen utama, yaitu data dan
Ø  Menggunakan baik data ekternal maupun internal
Ø  Memiliki kemampuan what-if analysis dan goal seeking analysis
Ø   Menggunakan beberapa model kuantitatif
Selain itu, Turban juga menjelaskan kemampuan yang harus dimiliki oleh sebuah sistem pendukung keputusan, di antaranya adalah sebagai berikut:
Ø  Menunjang pembuatan keputusan manajemen dalam menangani masalah semi terstruktur dan tidak terstruktur.
Ø   Membantu manajer pada berbagai tingkatan manajemen, mulai dari manajemen tingkat atas sampai manajemen tingkat bawah.
Ø  Menunjang pembuatan keputusan secara kelompok dan perorangan.
Ø  Menunjang pembuatan keputusan yang saling bergantungan dan berurutan.
Ø  Menunjang tahap-tahap pembuatan keputusan antara lain intelligence, design, choice dan implementation.
Ø  Menunjang berbagai bentuk proses pembuatan keputusan dan jenis keputusan.
Ø   Kemampuan untuk melakukan adaptasi setiap saat dan bersifat fleksibel.
Ø  Kemudahan melakukan interaksi sistem.
Ø  Meningkatkan efektivitas dalam pembuatan keputusan daripada efisiensi.
Ø  Mudah dikembangkan oleh pemakai akhir.
Ø  Kemampuan pemodelan dan analisis dalam pembuatan keputusan.
Ø  Kemudahan melakukan pengaksesan berbagai sumber dan format data.
C.      Keterbatasan Sistem Pendukung Keputusan.
Disamping berbagai kemampuan  dan karakteristik  seperti dikemukakan di atas, sistem pendukung keputusan memiliki juga keterbatasan, antara lain:
1.      Ada beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan, sehingga model yang ada dalam sistem tidak semuanya mencerminkan persoalan yang sebenarnya.
2.      Kemampuan suatu sistem pendukung keputusan terbatas pada pengetahuan dasar serta model dasar yang dimilikinya.
3.      Proses-proses yang dapat dilakukan oleh sistem pendukung keputusan biasanya  tergantung juga pada kemampuan perangkat lunak yang digunakannya.
4.      Sistem pendukung keputusan tidak memiliki intuisi seperti yang dimiliki oleh manusia. Karena sistem pendukung keputusan hanya suatu kumpulan perangkat keras, perangkat lunak dan sistem operasi yang tidak dilengkapi oleh kemampuan berpikir.
Secara implisit, sistem pendukung keputusan berlandaskan pada kemampuan dari sebuah sistem berbasis komputer dan dapat melayani penyelesaian masalah.
D.     Keuntungan Sistem Pendukung Keputusan
Beberapa keuntungan penggunaan SPK antara lain adalah sebagai berikut :
1.         Mampu mendukung pencarian solusi dari berbagai permasalahan yang kompleks.
2.         Dapat merespon dengan cepat pada situasi yang tidak diharapkan dalam konsisi yang berubah-ubah.
3.         Mampu untuk menerapkan berbagai strategi yang berbeda pada konfigurasi berbeda secara cepat dan tepat.
4.         Pandangan dan pembelajaran baru.
5.         Sebagai fasilitator dalam komunikasi.
6.         Meningkatkan kontrol manajemen dan kinerja.
7.         Menghemat biaya dan sumber daya manusia (SDM).
8.         Menghemat waktu karena keputusan dapat diambil dengan cepat.
9.         Meningkatkan efektivitas manajerial, menjadikan manajer dapat bekerja lebih singkat dan dengan sedikit usaha.
10.     Meningkatkan produktivitas analisis.
 
E.      Komponen Sistem Pendukung Keputusan
1.      Data Management 
Termasuk  database, yang mengandung data yang relevan untuk berbagai situasi dan diatur oleh software yang disebut  Database Management  Sistem(DBMS).
2. Model Management 
Melibatkan model finansial, statistikal, management science, atau berbagai model kualitatif lainnya, sehingga dapat memberikan ke sistem suatu kemampuan analitis, dan manajemen software yang dibutuhkan.
3.    Communication
User dapat berkomunikasi dan memberikan perintah pada DSS melalui subsistem ini. Ini berarti menyediakan antarmuka.
4.    Knowledge Management