Jumat, 26 Juni 2015

Metode Promethee Dalam SPK



Dasar PROMETHEE
PROMETHEE  adalah salah satu metode penentuan urutan atau prioritas dalam analisis multikriteria atau MCDM (Multi Criterion Decision Making). Dugaan dari dominasi kriteria yang digunakan dalam PROMETHEE  adalah penggunaan nilai dalam  hubungan  outrangking. Masalah pokoknya adalah kesederhanaan, kejelasan dan kestabilan. Semua parameter yang dinyatakan mempunyai pengaruh  nyata menurut pandangan ekonomi.
Data dasar untuk evaluasi dengan methode PROMETHEE disajikan pada Gambar 1 sebagai berikut :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVl-WG3lrvTO1Kc8v6ptiJTOekTA77W8u7QR8z1KCQBCzVJMKwqbR34lsu-y3E6R6nGwHQHl-qtDUWP0Jy0d7_q1l2KKtTnfLFwd2MrQB7XzZEAYH6nOt6NgJqVKkFtTpAjp8OePhYYk8/s320/1-Dasar+Analisis+PROMETHEE.png
Gambar 1 Data Dasar analisis PROMETHEE

Dominasi kriteria
Nilai f merupakan nilai nyata dari suatu kriteria, f : K → Я (Real Word) dan tujuannya berupa prosedur optimasi untuk setiap  alternatif  yang akan diseleksi,  a ε K,  f(a) merupakan evaluasi dari alternatif yang akan diseleksi tersebut untuk setiap kriteria. Pada saat dua  alternatif  dibandingkan  a,b ε K, harus  dapat ditentukan perbandingan preferensinya.
Penyampaian Intensitas (P) dari preferensi alternatif  a  terhadap alternatif  b sedemikian rupa sehingga:
- P(a,b) = 0,berarti tidak ada beda antara a dan b, atau tidak ada preferensi dari a  lebih baik dari b.
- P(a,b) ≈ 0, berarti lemah preferensi dari a lebih baik dari b.
- P(a,b) = 1, kuat preferensi dari a lebih baik dari b.
- P(a,b) ≈ 1, berarti mutlak preferensi dari a lebih baik dari b.
Dalam metode ini fungsi preferensi seringkali menghasilkan nilai fungsi  yang berbeda antara dua evaluasi, sehingga : P(a,b) = P(f(a)-f(b)).
Untuk semua kriteria, suatu obyek akan dipertimbangkan memiliki nilai kriteria yang lebih baik ditentukan nilai f dan akumulasi dari nilai ini menentukan nilai preferensi atas masing–masing obyek yang akan dipilih.
Setiap kriteria boleh memiliki nilai dominasi  kriteria  atau bobot  kriteria  yang  sama atau berbeda, dan nilai bobot  tersebut harus di atas 0 (Nol). Sebelum menghitung bobot untuk masing-masing kriteria, maka dihitung total bobot dari seluruh kriteria terlebih dahulu. Berikut rumus perhitungan bobot kriteria :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNORomNjvOrRYAfVeGp7HmNZnKDPO5qYOwaLIMRQA0IcEVgWOW7-TSA0V5zswb6CvKJeXUvNLaXR4uyZaFxQeLj8ACcisN9hTofs7TLVYvFAZkWSyMhe0Av5cB7Q5iKy4SQdR5nSoQp7c/s1600/2-Rumus+Bobot+Kriteria.png
Maka didapat rumus perbandingan untuk setiap alternatif, sebagai berikut :  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlWFCEBzDtx7wK4V6vcqfFyHxwDm5gC8fIyTaPbVzVOsnMxJ9wEQeb3fzATQqutoiZiNpGWPXcFGAGra6rdwv56_QjQ2GMZLcg8GQ5HHeIdR8TecJmpaK4u2hCf9AjWZU0UPjD0RXWe4A/s320/3-Rumus+Perbandingan+Alternatif.png

Rekomendasi fungsi preferensi untuk keperluan aplikasi
Dalam metode  PROMETHEE  ada Enam bentuk fungsi preferensi kriteria. Untuk memberikan gambaran yang lebih baik terhadap area yang tidak sama, maka digunakan tipe fungsi preferensi. Ke Enam tipe preferensi tersebut meliputi :
1.  Tipe Biasa (Usual Criterion)
Tipe Usual adalah tipe dasar, yang tidak memiliki nilai threshold atau kecenderungan dan tipe ini jarang digunakan. Pada tipe ini dianggap tidak ada beda antara alternatif a dan alternatif b jika a=b atau f(a)=f(b) , maka niliai preferensinya benilai 0 (Nol) atau P(x)=0. Apabila nilai kriteria pada masing-masing alternatif memiliki nilai berbeda, maka  pembuat keputusan membuat  preferensi mutlak  benilai 1 (Satu) atau  P(x)=1 untuk alternatif  yang  memiliki nilai lebih baik. Fungsi  P(x)  untuk preferensi ini disajikan pada gambar 2.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiQsqk8TLzvxQSUDvgfpsZ0-OdwRwJcaKNmULKd52V4K59CmyddQAar2WG4jhLBbTqAlIaNMzXmS6SpBjWnnarMwHOFp2xRJDf6sSDMZLJamrsd1-6zY0l04y0Ec2d5L1AroFNs708z5M/s320/4-Rumus+Tipe+Usual.png
Gambar 2 Tipe Preferensi Usual [7]

2.  Tipe Quasi (Quasi Criterion atau U-Shape)
Tipe Quasi sering digunakan dalam penilaian suatu data dari segi kwalitas atau mutu, yang mana tipe  ini  menggunakan Satu  threshold  atau  kecenderungan  yang sudah ditentukan,  dalam kasus ini  threshold  itu adalah  indifference.  Indifference ini biasanya dilamabangkan dengan karakter m atau q, dan nilai indifference harus diatas 0 (Nol). Suatu alternatif memiliki  nilai  preferensi yang sama penting selama selisih atau nilai P(x) dari masing-masing alternatif  tidak melebihi nilai  threshold. Apabila selisih hasil evaluasi untuk masing-masing alternatif melebihi nilai  m maka terjadi bentuk preferensi mutlak, jika pembuat memutuskan menggunakan kriteria ini, maka decision maker  tersebut harus menentukan nilai m, dimana nilai ini dapat dijelaskan pengaruh yang signifikan dari sutau kriteria. fungsi P(x) untuk preferensi ini disajikan pada gambar 3.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg570YUpD82jAqgAwCpRcqxQxbhStuGW9QBRwcP_VBOHzm5fC1yPeSL6kU20P95MKIiMlWqJ7GIghLvktFcEERaFyfJ8IK3XZO3SuQKkGkCdLHXd5bjYd2AITrJVlhOLbhGI3ocNCOPWSQ/s320/5-Rumus+Tipe+Quasi.png
Gambar 3 Tipe Preferensi Quasi [7]

3.  Tipe Linier (Linear Criterion atau V-Shape)
Tipe Linier acapkali digunakan dalam penilaian dari segi kuantitatif atau banyaknya jumlah, yang mana tipe  ini  juga menggunakan Satu  threshold  atau  kecenderungan yang sudah ditentukan,  dalam kasus ini  threshold  itu adalah  preference. Preference ini biasanya  dilamabangkan dengan karakter  n  atau  p, dan nilai  preference  harus diatas 0 (Nol). Kriteria ini menjelaskan bahwa selama nilai selisih memiliki nilai yang lebih rendah dari n, maka nilai preferensi dari pembuat keputusan meningkat secara linier dengan nilai x, jika nilai x lebih besar dibandingkan dengan nilai n, maka terjadi preferensi mutlak. Fungsi P(x) untuk preferensi ini disajikan pada gambar 4.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMC_PCH3ioPoIhyX6i5Ir78ns9Ij_wH7tMrFtdEKWwgxnVBeH4jCtQfa8iya2JjFzzAZBeIAO8kHwWCykJI7sqHxBqXEAXcp2O_tLA78No1cIBIXBBa5EvnJqxeUvCVEb03pZ4Q7QnUUw/s320/6-Rumus+Tipe+Linear.png
 Gambar 4 Tipe Preferensi Linear [7]

4.  Tipe Tingkatan (Level Criterion)
Tipe ini mirip dengan  tipe Quasi yang sering digunakan dalam penilaian suatu data dari segi kwalitas atau mutu. Tipe ini  juga menggunakan  threshold indifference (m) tetapi  ditambahkan Satu  threshold  lagi  yaitu  preference  (n). Nilai  indifference serta preference harus diatas 0 (Nol) dan nilai indifference harus di bawah nilai preference. Apabila alternatif tidak memiliki perbedaan (x), maka nilai preferensi sama dengan 0 (Nol)  atau P(x)=0. Jika  x  berada  diatas  nilai m  dan  dibawah nilai  n, hal ini berarti situasi preferensi yang lemah P(x)=0.5. Dan jika x lebih besar atau sama dengan nilai n maka terjadi preferensi mutlak P(x)=1. Fungsi P(x) untuk preferensi ini disajikan pada gambar 5.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWXTVLfDzAxmsI1j2C0eRjkUjmwoItp5kYdECFCC8QOQheKgGoDGO0kSi1Oo2HeluzzuDcttLeLfr5HmEfe6EQmscCD5oPRYc6f2JvwnBgVTy95PhLBqF6WREmg5EEXLyC1L72HSnuHg0/s320/7-Rumus+Tipe+Level.png
Gambar 5 Tipe Preferensi Level [7] 

5.  Tipe Linear Quasi (Linear Criterion with Indifference)
Tipe  Linear Quasi  juga  mirip dengan tipe Linear  yang acapkali digunakan dalam penilaian dari segi  kuantitatif  atau banyaknya jumlah. Tipe ini juga  menggunakan threshold  preference (n) tetapi ditambahkan Satu threshold  lagi yaitu  indifference (m). Nilai indifference  serta  preference  harus diatas 0 (Nol) dan nilai  indifference harus di bawah nilai  preference. Pengambilan keputusan mempertimbangkan peningkatan preferensi secara linier dari tidak berbeda hingga preferensi mutlak dalam  area antara dua kecenderungan  m  dan  n.  Fungsi  P(x)  untuk preferensi ini disajikan pada gambar 6.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi0t-QbVH3GEZKOgegZfBeZ9EOgzvsSiHEjinBd3SQcjVexdUmPoRfx_QYRRlAt3d5NqMYgA8ptOZbx6j4s5JXJG4GCWI6boBbLAGS1npMtH5rDN2zJ6lvou-95ul0Y-qs-0WJ9Iem_et0/s320/8-Rumus+Tipe+Linear+Quasi.png
 Gambar 6 Tipe Preferensi Linear Quasi [7]

6.  Tipe Gaussian
Tipe Gaussian sering digunakan untuk mencari nilai aman atau titik aman pada data yang bersifat continue atau berjalan terus.[8] Tipe ini memiliki nilai  threshold yaitu Gaussian  threshold  ( )  yang berhubungan dengan nilai standar deviasi  atau distribusi  normal dalam statistik. fungsi  P(x)  untuk preferensi ini disajikan pada gambar 7.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLuFwZGs-fo0qgmwosLZ_SC_mnEvkLyOC0xclSkIohW7-bcAYggvifA4XFyFQ7YUrqoFzTtlRUx9m4zQHGbNi75la_ADZC2W2B5XU1qI8V-oX-P3WFA-bxbaygf84k9yAvfJ0WdRBBv3U/s320/9-Rumus+Tipe+Gaussian.png
Gambar 7 Tipe Preferensi Gaussian [7]

Nilai threshold atau kecenderungan
Enam tipe dari  penyamarataan kriteria bisa dipertimbangkan  dalam metode PROMETHEE, tiap-tiap tipe bisa lebih mudah ditentukan  nilai kecenderungannya atau parameternya karena hanya Satu atau Dua parameter yang mesti ditentukan. Hanya tipe Usual saja yang tidak memiliki nilai parameter.
Indifference  threshold  yang biasa dilambangkan dalam karakter m atau q.  Jika nilai perbedaan (x) di bawah atau sama dengan nilai  indifference x ≤ m maka x dianggap tidak memiliki nilai perbedaan x = 0.
Preference  threshold  yang biasa dilambangkan dalam karakter  n  atau  p. Jika nilai perbedaan (x) di  atas  atau sama dengan nilai  preference  x  ≥  n  maka perbedaan tersebut memiliki nilai mutlak x = 1.
Gaussian threshold  yang biasa dilambangkan dalam karakter σ serta diketahui dengan baik sebagai parameter  yang secara langsung berhubungan dengan nilai standar deviasi pada distribusi normal. [5]
Arah dalam grafik nilai outrangking
Perangkingan yang digunakan dalam metode  PROMETHEE  meliputi tiga bentuk antara lain :

1.  Entering flow
Entering flow adalah jumlah dari yang memiliki arah mendekat dari node a dan hal ini merupakan karakter pengukuran outrangking.
Untuk setiap nilai  node  a dalam grafik nilai  outrangking  ditentukan berdasarkan entering flow dengan persamaan :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1HqEzb4dVMOdysPfwSnTEcbG5U4HodJXHJR6WQ2naa7D0IUZj02VojHYiyw_NpH0B0yInpyrSjRylJeCulH_3vvFPP2yc6U5KZNOeNMNoLuxRghkw-rspIeuFzzVAR0S9LogjZ9Gw7V4/s1600/10-Rumus+Entering+Flow.png

2.  Leaving flow
Sedangkan Leaving flow adalah jumlah dari yang memiliki arah menjauh dari node a dan hal ini merupakan pengukuran outrangking. Adapun persamaannya:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSBXlsYLUg2yz5qAYgvjPw5PfL0jnnt_NwLM5vCV1vAfZDrCeSsLbw9HrPzDAG7zMUSJvncf8CfOeCOiD-cNzFH2mAsqKdb6PhQSH_RG86HZM0hvJr3mwMmp9aC24r32WmvQc2W4-s3sY/s1600/11-Rumus+Leaving+Flow.png

3.  Net Flow
Sehingga pertimbangan dalam penentuan Net flow diperoleh dengan persamaan : 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBbDXnw0Sk4tFBofJwVjuJ8iX1MsjowBM9NvODdUPZStA4GgSVT90J2D0ble3a1S83g-j8290qDjwY1MgM4dg3Ksg8fpLrvU19JmDDFXOna_e9ti0TSXLiHj5TjNTMxABwfSizjKeQtpg/s1600/12-Rumus+Net+Flow.png

Semakin besar nilai  Entering  flow  dan semakin kecil  Levaing  flow maka alternatif tersebut memiliki kemungkinan dipilih yang semakin besar. Perangkingan dalam PROMETHEE I dilakukan secara parsial,  yaitu didasarkan pada nilai Entering  flow dan Levaing  flow. Sedangkan  PROMETHEE  II termasuk perangkingan komplek karena didasarkan pada nilai Net  flow masing-masing alternatif yaitu alternatif dengan nilai Net flow lebih tinggi menempati satu rangking yang lebih baik.

Langkah-langkah perhitungan dengan metode PROMETHEE
Langkah-langkah perhitungan dengan metode PROMETHEE adalah sebagai berikut:
Menentukan beberapa alternatif
Menentukan beberapa kriteria
Menentukan dominasi kriteria
Menentukan tipe penilaian,  dimana tipe penilaian memiliki 2 tipe yaitu; tipe minimum dan maksimum.
Menentukan tipe preferensi untuk setiap kriteria yang paling cocok didasarkan pada data dan pertimbangan  dari  decision maker.  Tipe preferensi ini berjumlah  Enam (Usual, Quasi, Linear, Level, Linear Quasi dan Gaussian).
Memberikan nilai  threshold  atau  kecenderungan  untuk setiap kriteria berdasarkan preferensi yang telah dipilih.
Perhitungan Entering flow, Leaving flow dan Net flow
Hasil pengurutan hasil dari perangkingan
Dalam metode promethee ada 2 macam perangkingan yang disandarkan pada hasil perhitungan, antara lain :
Perangkingan parsial yang didasarkan pada nilai Entering flow dan Leaving flow.
Perangkingan lengkap atau komplit yang didasarkan pada nilai Net flow. 

Metode Topsis Dalam SPK



Metode  TOPSIS  adalah  salah  satu  metode  pengambilan  keputusan multikriteria yang pertama kali diperkenalkan oleh Yoon dan Hwang  pada tahun 1981.  Metode  ini  merupakan  salah  satu  metode  yang  banyak  digunakan  untuk menyelesaikan pengambilan  keputusan  secara  praktis.  TOPSIS  memiliki  konsep dimana alternatif  yang terpilih merupakan alternatif terbaik  yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal positif dan jarak terjauh dari solusi ideal negatif [4]. Semakin  banyaknya  faktor  yang  harus  dipertimbangkan  dalam  proses pengambilan  keputusan,  maka  semakin  relatif  sulit  juga  untuk  mengambil
keputusan  terhadap  suatu  permasalahan.  Apalagi  jika  upaya  pengambilan keputusan  dari  suatu  permasalahan  tertentu,  selain  mempertimbangkan  berbagai faktor/kriteria  yang  beragam,  juga  melibatkan  beberapa  orang  pengambil keputusan.  Permasalahan  yang  demikian  dikenal  dengan  permasalahan  multiple criteria decision making  (MCDM).  Dengan kata lain, MCDM juga dapat disebut sebagai  suatu  pengambilan  keputusan  untuk  memilih  alternatif  terbaik  dari sejumlah  alternatif  berdasarkan  beberapa  kriteria  tertentu.  Metode  TOPSISdigunakan  sebagai  suatu  upaya  untuk  menyelesaikan  permasalahan  multiple criteria  decision  making.  Hal  ini  disebabkan  konsepnya  sederhana  dan  mudah dipahami, komputasinya  efisien  dan  memiliki  kemampuan  untuk  mengukur kinerja relatif dari alternatif-alternatif keputusan.
Langkah-langkah Metode TOPSIS
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyelesaikan suatu permasalahan menggunakan metode TOPSIS adalah sebagai berikut [4]:
Menggambarkan  alternatif  (m)  dan  kriteria  (n)  ke  dalam  sebuah  matriks, dimana  Xij adalah  pengukuran  pilihan  dari  alternatif  ke-i  dan  kriteria  ke-j.Matriks ini dapat dilihat pada persamaan satu.
 

Membuat matriks R yaitu matriks keputusan ternormalisasi Setiap  normalisasi  dari  nilai  rij dapat  dilakukan  dengan  perhitungan menggunakan persamaan dua.

Membuat pembobotan pada matriks yang telah dinormalisasi Setelah dinormalisasi, setiap kolom pada matriks R dikalikan dengan bobotbobot (wj) untuk menghasilkan matriks pada persamaan tiga.

Menentukan nilai solusi ideal positif dan solusi ideal negatif. Solusi ideal dinotasikan A+, sedangkan solusi ideal negatif dinotasikan A-. Persamaan untuk menentukan solusi ideal dapat dilihat pada persamaan empat.

Menghitung separation measure. Separation measure ini merupakan
pengukuran jarak dari suatu alternatif ke solusi ideal positif dan solusi ideal
negatif.
–  Perhitungan solusi ideal positif dapat dilihat pada persamaan lima :

–  Perhitungan solusi ideal negatif dapat dilihat pada persamaan enam :

Menghitung  nilai  preferensi  untuk  setiap  alternatif. Untuk  menentukan ranking tiap-tiap alternatif yang ada maka perlu dihitung terlebih dahulu nilai preferensi  dari  tiap  alternatif.  Perhitungan  nilai  preferensi  dapat  dilihat melalui persamaan tujuh.
 
Setelah  didapat  nilai  Ci+,  maka  alternatif  dapat  diranking  berdasarkan urutan  Ci+.  Dari  hasil  perankingan  ini  dapat  dilihat  alternatif  terbaik  yaitu alternatif yang memiliki jarak terpendek dari solusi ideal dan berjarak terjauh dari solusi ideal negati

Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk



Sebelum memilih solusi dari beberapa alternatif yang ada, diperlukan adanya kriteria. Kriteria mewakili definisi masalah dalam bentuk konkret. Kriteria kemudian dianalisis, sehingga diperoleh standar pengukuran. Jika memungkinkan kriteria harus digambarkan dalam bentuk kuantifikasi. Namun dalam kenyataannya ada saja kriteria yang sulit dikuantifikasi seperti faktor sosial, estetika, keadilan, faktor-faktor politis dan kelayakan pelaksanaan. Tapi jika kriteria yang hendak dipakai bisa dikuantifikasi , maka kuantifikasi wajib dilakukan. Proses pemilihan kriteria harus dilakukan dengan pertimbangan yang benar-benar matang agar tidak ada faktor-faktor yang terlewatkan atau malah tumpang tindih.
Sifat-sifat yang harus diperhatikan dalam memilih kriteria (Suryadi dan Ramdhani, 1998) antara lain
a.Lengkap, maksudnya kriteria dapat mencakup seluruh aspek penting dalam persoalan.
b.Operasional, agar bisa digunakan dalam analisis. Sifat ini mencakup beberapa pengertian antara lain kumplan kriteria ini mempunyai arti bagi pengambil keputusan , sehingga implikasinya bisa benar-benar dimengerti.Selain itu jika tujuan pengambilan keputusan digunakan sebagai sarana meyakinkan pihak lain, kriteria ini harus menjadi sarana untuk memberikan penjelasan atau untuk berkomunikasi.
c.Tidak berlebihan, sehingga menghindarkan perhitungan berulang. Harus dihindari kriteria dengan pengertian yang sama
d.Minimum, agar mengkomprehensipkan persoalan. Jika semakain banyak kriteria yang kita tetapkan semakin sukar untuk mengerti persoalan dengan baik dan jumlah perhitungan yang dilakukan akan bertambah.

Paradigma Kriteria Tunggal
Melalui analisis pengambilan keputusan kriteria tunggal, setiap hubungan preferensi antar alternatif dibandingkan dengan hasil antara lebih disukainya suatu alternatif (P-prefer) dan tidak berbeda (indefferent).

Paradigma Kriteria Majemuk
Setiap hubungan preferensi alternatif dibandingkan melalui analisis keputusan kriteria majemuk dibedakan hasilnya menjadi lebih disukai (P-prefer), tidak berbeda (indiferent), dan tidak dapat dibandingkan (I-indiferrent) dan tidak dapat dibandingkan (incomparability).

Konsep dasar pemilihan untuk menghadapi pengambilan keputusan kriteria majemuk antara lain :
a.Dominasi
b.Leksikografi
c.Tingkat aspi